Senin, 22 Februari 2010

Anak Nakal

Dan ketika ada wanita yang berjalan tertatih aku mendorongnya hingga terjatuh. "Toh apa gunanya dia berjalan kalau mentatih begitu? Lebih baik jatuh sekalian. Makanya aku dorong dia mumpung dia belum jatuh akubat pincangnya" kataku dengan tenang.

Ketika ada seorang kakek sekarat,aku langsung membunhnya. Merajam dengan batu cadas yang keras sampai darahnya muncrat. "Toh apa gunanya dia hidup? Kaya Ikan yang di lempardi tanah aja. Mending dimatiin sekaliankan?"

Ya begitulah orang langsung mencapku anak nakal dan bersimpati seluas laut merah kepada keluarga korban. Hmm. Cuma itu yang bisa aku katakan. Terlepas dari semua itu aku lega.

Wanita pincang itu,jika saja tidak aku dorong tidak akan ada mata yang memandang dan membantunya. Kakek itu,eh maksudku almarhum kakek itu bila tidak aku membunuhnya tidak akan ada yang mau memakamkannya secara layak. Bangkainya hanya menjadi santapan tikus dan arwahnya akan dipercaya menghantui tempat dia mati.

Aku nakal. Nakalkah aku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar