Aku pikir semua akan membaik. Tapi aku tidak tahu langkah. Aku skak di tengah permainan catur. Sekarat kehabisan nafas di tengah lapangan bola. Entah ada apa tapi aku seperti membentengi diri dari kamu. Refleks. Seperti mata yang begitu saja berkedip ketika benda asing menghampiri. Ah ya,tapi kamu bukan orang asing.
Aku ingat kamu pernah bilang sejauh apapun aku berlari,kamu akan tetap diam di tempat karena kamu yakin aku akan datang dari arah berlawanan kembali ke dekatmu. Kamu melecehkanku atau apa aku tidak mau menebak. Karena kamu bukan hal yang indah untuk ditebak. Anggap saja kita mulai bermain.
Biarkan aku tidak jujur kali ini saja. Hanya padamu :)
Sabtu, 27 Februari 2010
Jumat, 26 Februari 2010
Kamis, 25 Februari 2010
Senin, 22 Februari 2010
Anak Nakal
Dan ketika ada wanita yang berjalan tertatih aku mendorongnya hingga terjatuh. "Toh apa gunanya dia berjalan kalau mentatih begitu? Lebih baik jatuh sekalian. Makanya aku dorong dia mumpung dia belum jatuh akubat pincangnya" kataku dengan tenang.
Ketika ada seorang kakek sekarat,aku langsung membunhnya. Merajam dengan batu cadas yang keras sampai darahnya muncrat. "Toh apa gunanya dia hidup? Kaya Ikan yang di lempardi tanah aja. Mending dimatiin sekaliankan?"
Ya begitulah orang langsung mencapku anak nakal dan bersimpati seluas laut merah kepada keluarga korban. Hmm. Cuma itu yang bisa aku katakan. Terlepas dari semua itu aku lega.
Wanita pincang itu,jika saja tidak aku dorong tidak akan ada mata yang memandang dan membantunya. Kakek itu,eh maksudku almarhum kakek itu bila tidak aku membunuhnya tidak akan ada yang mau memakamkannya secara layak. Bangkainya hanya menjadi santapan tikus dan arwahnya akan dipercaya menghantui tempat dia mati.
Aku nakal. Nakalkah aku?
Ketika ada seorang kakek sekarat,aku langsung membunhnya. Merajam dengan batu cadas yang keras sampai darahnya muncrat. "Toh apa gunanya dia hidup? Kaya Ikan yang di lempardi tanah aja. Mending dimatiin sekaliankan?"
Ya begitulah orang langsung mencapku anak nakal dan bersimpati seluas laut merah kepada keluarga korban. Hmm. Cuma itu yang bisa aku katakan. Terlepas dari semua itu aku lega.
Wanita pincang itu,jika saja tidak aku dorong tidak akan ada mata yang memandang dan membantunya. Kakek itu,eh maksudku almarhum kakek itu bila tidak aku membunuhnya tidak akan ada yang mau memakamkannya secara layak. Bangkainya hanya menjadi santapan tikus dan arwahnya akan dipercaya menghantui tempat dia mati.
Aku nakal. Nakalkah aku?
Respon
Seorang teman berkomentar gini: "Mana yang lebih baik, investasi tubuh atau hati? Karena upah buta akan datang dari labuhan manusia bermata malam. Kita harus berjuang sendiri dari dikte pemimpin ke wakilnya, wakil ke sekretarisnya, sekretaris ke bendaharanya, bendahara hingga ke yang hanya jadi pekerja. Namakan saja sebagai arus. Dan jadilah riak, kalau memang ingin berinvestasi."
Ya komentar yang masih ada kaitannya sama post gue tentang guru. Sejujurnya yang gue maksudkan dengan investasi tubuh adalah suatu sindiran kepada guru-guru yang suka makan gaji buta bahwa mereka hanya menginvestasikan tubuhnya,raganya dan mukanya di kelas tanpa membagi ilmu yang merupakan kewajiban beliau dan hak kita sebagai murid.
Awal posting ini terinspirasi dari beberapa guru di sekolah gue yang cuma dateng ke kelas tanpa melakukan tugasnya. Sebagai murid apakah kita akan diam sekarang dan tetep terjun ke siklus itu?
Ya komentar yang masih ada kaitannya sama post gue tentang guru. Sejujurnya yang gue maksudkan dengan investasi tubuh adalah suatu sindiran kepada guru-guru yang suka makan gaji buta bahwa mereka hanya menginvestasikan tubuhnya,raganya dan mukanya di kelas tanpa membagi ilmu yang merupakan kewajiban beliau dan hak kita sebagai murid.
Awal posting ini terinspirasi dari beberapa guru di sekolah gue yang cuma dateng ke kelas tanpa melakukan tugasnya. Sebagai murid apakah kita akan diam sekarang dan tetep terjun ke siklus itu?
Kamis, 18 Februari 2010
Jadi
Saya tidak bilang kalo semuanya salah. Cuma ada yang berbeda. Ada sesuatu yang hilang ketika mengajukan proposal berisi petisi itu. Entah kenapa semua elegi seperti menguap dibakar sekam. Seperti tidak terjadi apa-apa.
Investasi
Investasikan tubuhmu. Seolah tidak ada ilmu yang kamu punya. Sebab sekarang guru cuma sekedar gelar. Karena sekarang sekolah adalah ajang bisnis. Buat apa capek pergi ke sekolah kalo akhirnya mesti belajar sendiri? Di sekolah cuma mengais lembaran Power Point yang isinya copy-paste dari internet sampe mata mendelik. Guru seakan gak punya kredibilitas. Dibuai moderenisasi berupa LCD,Power Point dan lainnya. Jadi,mulailah invetasikan tubuhmu!
Langganan:
Komentar (Atom)